Sabtu, 21 Februari 2009

Sekelebat cahaya, sebelum fajar

Ya Allah, hari ini hamba menangis
dan hari ini pula hamba gembira
ya Allah, hamba sulit mengehentikan
tangis ini

karna dalam tangis ini
hamba merasakan ketentraman di mana lama, ia tak kutemui...

Ya Allah, bukan karena kata-kata
dari hambaMu yang kemarin
tapi karena perasaan ingin menjadi pelita
bagi orang lain


Ketika aku berjalan menyisir jalan dari masjid. bersamanya pula, aku menyisir kehidupanku di masa lampu. di mana itu pula, terdapat doa dan harapan dari seorang durjana sepertiku.

Apa yang aku rasakan saat itu? Sulit...tapi sesungguhnya, aku berdoa padaMU, Maha Pengampun. Langkah pertamaku menuju kerumah, diingatkan dengan sebuah potiongan waktu, yang seakan-akan itu memenuhi sesak di hatiku. biarkanlah aku emnulis wahai teman, aku ingin berbagi hal ini bersama kalian.

Potongan itu, adalah ketika aku menjadi sangat rapuh, dan menguatkan diri dengan segera. "Sabar...Ya" inilah pemicu kejadian pagi ini.
Sebuah Potongan yang kemudian diiringi potongan-potongan lain yang serupa tapi tak sama. "Sabarlah", katanya. "Kamu kurang sabar" kata Ibu. "kamu bukan orang yang aku kenal". "Kamu berubah ya...". "gak usah marah-marah gitu donk."

Hamba tidak merasa ini karena hambaMu yang kemarin. Dan bukan karena itu, hamba merasakan ketidakleluasaan hati untuk merasa. Lebih karena takut, kehilangan. Sekali lagi, bukan karena hambaMu yang kemarin. tapi kehilanganMu , Ya Allah.

tiba saatnya aku menyeberang, saat itu entah ada desakan dari hati, sesak yang hidup, dan akhirnya aku menangis. Oh Ya Allah, hamba tak ingin menahannya. Aku berhenti sejenak dan terpana melihat langit, terduduk, dan menangis...

Ya Allah, di manakah hamba selama ini
hingga sering lalai dari Mu
Ya Allah, ke manakah hamba selama ini pergi
hingga sekarang hamba jauh dariMU

ya Allah, Ibu, Keluargaku, dan teman-teman yang aku sayangi...
maafkan aku...

untuk hati yang tergores lisan
kalbu yang tertampar lidah
pikiran yang mendendam karena sikap
jiwa yang aku hina

hai sombong, aku tak ingin kau ada sebagai sahabat. pergilah jauh dariku...
Hai sabar, kemarilah, aku ingin memelukmu dengan erat...
hingga aku mati...