Angin mulai berhembus kencang,saat aku mengguratkan pena kecilku.Aku menahan kertas tumpahan hatiku agar tak terbawa olehnya.Di sela-sela angin yang semakin kencang,aku menerawang ke langit,dan jatuhlah setetes air di wajahku.Lambat laun tetesan-tetesan itu semakin banyak dan hujan pun datang.
Hai kertasku,aku ingin berbagi sesuatu denganmu.Sesuatu yang hanya bisa aku rasa,namun sulit kuungkapkan.Entah,tapi memang benar,suasana saat aku menuliskan ini padamu seiring dengan alunan suasana hatiku.
Aku benar-benar tak mengerti,terlalu banyak yang aku pikirkan,bagaikan hujan kali ini.
Beberapa rasa ada dan kualami di hatiku saat ini.Tapi,aku ingin engkau juga merasakannya,walau hanya satu saja.Perasaan di mana ia menerangkan hidupku yang kacau.
Hai kertasku,angin berhembus semakin kencang,jangan kau lepaskan peganganku,aku ingin kau ikut berbahagia denganku.
Aku merasakannya beberapa hari lalu,desir-desir yang membelai hampa hatiku.Menyapa sudut ruang hatiku yang kelam,menyibak tirai kegelapan yang menutupi hatiku selama ini.
Detak-detak jantung berdebar saat aku teringat dua nama.
Maukah kau tahu,wahai kertasku?
Allah..Allah wahai kertasku.Ia memberikan kesejukan,cahaya,dalam hatiku yang tenggelam dalam lumpur dosa dan keterpurukan rasa.
Melalu hambaNYA yang namanya belum bisa kuungkapkan wahai kertasku.Aku masih belum yakin,karna badai-badai nafsu masih meracuni hatiku.
Ia yang baru saja mengisi hampaku,aku tak tahu,apakah memang ia yang dijadikan Allah dari belulang rusukku.
Sesungguhnya wahai kertasku,aku merasakan rasa itu,yang aku juga ingin kau merasakannya.
Aku bingung wahai kertasku,aku bingung. Mungkin karna itulah,hujan ini serasa begitu menemaniku.
Itulah satu rasa,yang engkau juga tahu itu apa..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


2 komentar:
Ehemm... Ehemm...
Mas Wildano ik ra tw ngomen blogku. Jahat. Aku kan selalu seti ngomen blogmu.
cieeee.... siapa tuh???
ckckckckckck... hehe
Posting Komentar