Minggu, 19 Oktober 2008

petikan cerita, kala hujan merintih

Assalamu’alaikum…
Tak sedikit hal yang kualami hari ini. Namun, gak bisa dibilang banyak juga. Aku menuliskan sepotong kisah ini, agar aku bisa selalu mengingatnya.
Di tengah rintihan air hujan yang jatuh membasahi bumi, aku sendiri di kamar, nenek dan ibuku sedang larut dalam kekhusyukan sembahyang maghribnya. Setelah membaca 1 ruku’ ayat-ayat suci Al qur’an aku pun melihat hujan sejenak. Empph…aku hirup udaranya dan aku merasa seperti baru saja mendapat limpahan rahmat dan semangat dari Sang Pencipta.
Tapi bukan ini yang ingin aku ceritakan…(gubrak)
Mari kita mulai, tepat saat hujan berhenti turun.
Minggu pagi, matahari bersinar tidak begitu cerah. Aku melihat waktu menunjukkan pukul 06.25. “Saatnya aku bergegas” pikirku. Ngomong2, aku sudah niat, bahwa pada hari ini aku akan main ke tempat teman lamaku waktu SMP dan SMA. Rumahnya di daerah Kartasura. Kalo dihitung2, jaraknya dari rumahku lumayan, mungkin sekitar 20 km.
Jarak segitu, aku akan menempuhnya dengan sepeda onthel(baca:sepeda biasa).
Segera aku mengambil tasku(pinjeman sih, sebenarnya punya temenku, Nabila). Dengan sigap aku memasukkan botol air minum 1,5 liter. Memeriksa dompet, dan hape. “Ok, semua lengkap.”
Tiba2 ibuku datang membawa berita gembira..hahaha..
“Le, mau pibo ninggali kowe duit dingo sangu. Kuwi ning mejo.”
Ada yang gak bisa bahasa jawa? Mari kita terjemahkan..
“Nak, tadi nenek ngasih kamu uang buat jajan. Tuh, di meja.”
Sebagai tambahan, ‘pibo’ bukan berarti ‘nenek’. Nenek, bahasa jawanya itu ‘simbah’, tapi karena waktuku masih imut, gak bisa panggil simbah, akhirnya manggilnya, “Pibo…Pibo!!”
Begitulah ceritanya…
Ehm, kembali ke topic utama. Setelah mengucapkan salam. Aku berdoa dan embgayuh sepedaku. Diiringi music dari MP4 Player yang aku beli dari temenku dengan harga yang sedikit kemahalan.
Mendaki gunung, lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudra
Bersama teman, bertualang…(OST. Ninja Hattori)
Setelah kurang lebih 30 menit mengayuh, akhirnya aku sampai di daerah Windan, Kartasura. Aku piker, daripada ntar aku dikasih makan sama temenku, mending aku sarapan dulu.
Soto lamongan, bubur ayam sukabumi, soto kwali, RM. Padang. Dari semua itu, akhirnya aku memilih bubur kacang ijo. Di depan pabrik Tyfountex yang baunya mirip cokak(asam cuka) aku menikmati bubur kacang ijo yang nikmat itu.
Selesai, aku menghampiri bapak penjualnya dan membayar. Dari sana, entah kenapa hatiku tersentuh. Aku melihat sosok seorang lelaki tua yang umurnya kira2 sudah mencapai 75 tahum masih berkeliling menjualkan bubur kacang ijo. Aku seperti merasakan benar, perjuangan dari kakek ini. Mungkin jika mendengar cerita dari si kakek, aku bisa benar2 menangis.
Yang lebih mengherankan,
“Pak, sudah. Berapa ya Pak?”
Si kakek menjawab,”1500.”
Ini beneran, ato aku salah denger. Rata2 bubur di daerah rumahku dari dulu Rp 2500. Itupun rasa manisnya tidak alami.
Setengah tidak percaya, aku bertanya lagi.
“berapa tadi pak?
Dengan sedikit keras,”Seribu lima ratus mas, bukan dua ribu lima ratus.”
Beneran ternyata. Subhanallah…
Aku bayar tu bubur, lalu segera pergi sambil mendoakan si kakek. Semoga Si Kakek diberi semngat yang lebih dalam berjuang untuk hidupnya.
Begitulah, sepenggal cerita dariku.
Tapi ini belum selesai, aku meneruskan perjalanan ke tempat temenku. Gak sampai 10 menit aku sudah sampai. Sambil mengingat-ingat, aku melihat ke sisi jalan sebelah kanan.
Nah, itu dia.
Sampai di sana, bapaknya yang menyambutku, temanku masih bermain air di kamar mandi. Hehehe…
Fuh, aku beristirahat sambil berbincang2 dengan beliau.
_belum selesai_
*Sebentar, aku mau sholat dulu, biar lebih fresh pikirannya.*
_lanjut lagi_
Setelah lama, akhirnya temanku keluar. Tingkah dan cara bicaranya yang aneh tidak berubah. Biar kugambarkan. Temenku- sebut saja Mr. M-tingkahnya itu beda dari yang lain, seperti orang bodoh, kadang ia berkelakar dan tertawa seperti anak kecil. Pertama kali kenal, gak bakal nyangka kalo dia waktu SMP selalu masuk dalam jajaran juara parallel satu angkatan. Nilainya gak pernah kurang dari 80. Waktu SMA, ia mewakili sekolah dalam lomba Fisika.
Kalo aku ceritakan keanehannya, gak bakal selesai.
Aku di rumah temenku, disetein film jepang. Gila, ceritanya gak romantic, tapi menyentuh. Ada nilai yang bisa kuambil dari cerita itu.
“Kejarlah impianmu, karna impian itu adalah hidup.”
Dari waktu aku sampai, pukul 07.30, sekarang sudah menunjukkan pukul 11.25.
Dengan sedikit berat hati, aku pamit.
Satu lagi keanehan dan keunikan yang kualami, kali ini dari Bapak dan Ibunya temenku itu.
Beginilah dialognya dengan sedikit improvisasi.
“Bu, pak. Saya mohon pamit.”
Sang ibu langsung menahan,”Walah, lhawong belum makan. Ayo makan dulu! Sudah tak siapin!”
Aku langsung menolak, lha orang baru 1jam yang lalu dikasih tahu kupat sama mangga. Ini makan lagi.
Bapaknya gak mau kalah, “Halah, sudah biasa aja. Gak papa, kamu kan jarang2 kesini.”
“Aduh sudah pak, ni perut masih penuh pak.”
Ibunya masuk ke dalam sambil berkata,”Halah, pkoke kudu maem dulu.!”
‘Aduh, mateng aku.’
Ni bapaknya nambahin.”Halah, Cuma nasi aja kok, sedikit aja. “
‘Aduh, plis pak. Aku emang masih pengen, tapi ni perut juga ada batas maksimalnya pak.’
Ibunya yang tadi masuk, keluar dan mendekatiku…
Meraih tanganku, melebarkan telapak tangan ku dan di tamparkan ke tanganku uang 20 ribu…
“Waduh, Bu. Kok malah duit?”
“Udah ambil, sekarang makan dulu!”
Rangkaian kata2nya sih biasa, tapi nadanya tinggi semua. Memaksaku(padahal juga pengen)untuk maem lagi…
Aku maem diambilin ma Ibu Mr. M. Walah gak ketulungan, piringnya hampir penuh. Apalagi lauknya, ikan kakap bakar pake pete. Dengan sedikit rasa sungkan, aku makan bersama temanku.
Dialog tadi sebenarnya pake bahasa jawa semua, tapi aku mikirin kamu2 yang berasal dari makasar, Jakarta, Padang, bahkan Kalimantan.
Simple aja, aku kaget aja melihat keluarga yang ramah dan baiknya gak ketulungan. Aku sungkan, tapi juga merasa aneh sekaligus kagum.
Padahal emreka hanya tinggal di rumah yang lama, lantainya juga Cuma semen, bukan keramik. Tembok rumah Mr. M juga termasuk golongan yang harus direnovasi. Bapaknya juga sudah tua, apalagi Ibunya.
Sederhana, namun bahagia. Fuh, aku merasakan suasana bahagia dalam keluarga ini. Senyum dan canda di tengah sahajanya hidup mereka.
Semoga mereka termasuk orang2 yang dirahmati Allah…
Yupz. Itulah kisah awal dariku. Jika kamu terbayang Mr. M itu siapa, ato pernah kenal, cobalah datangi rumahnya. Pasti kamu dikasih uang!!!
Akhirnya, sampai jumpa di posting berikutnya. Wassalamu’alaikum…

Tidak ada komentar: